Home > Warna-warni > Renungan Cangkir dan Kopi

Renungan Cangkir dan Kopi


Beberapa mingu yang lalu, saya mendapatkan broadcast email dari intranet dikantor saya. Email itu berisikan cerita yang sangat menggugah, ini kutipannya:

Sekelompok alumni satu universitas yang telah mapan dalam karir

masing-masing berkumpul dan mendatangi professor kampus mereka yang telah

tua. Percakapan segera terjadi dan mengarah pada komplain tentang stress di

pekerjaan dan kehidupan mereka.

Menawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur dan kembali dengan

poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis – dari porselin,

plastik, gelas, kristal, gelas biasa, beberapa diantara gelas mahal dan

beberapa lainnya sangat indah – dan mengatakan pada para mantan

mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor

itu mengatakan : “Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan

mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah

saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi

diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress

yang kalian alami.”

“Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi.

Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan

menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya

adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil

cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain.”

Sebuah cerita yang luar biasa, “super” kata Mario Teguh. Hal yang wajar dan manusiawi bila kita memilih cangkir yang indah, namun apapun cangkirnya, rasa kopi itu tidak akan berubah.

Email ini membawa pemikiran yang luar biasa di kepalaku, selama ini aku tidaklah menyadari bahwa aku telah mementingkan, dikendalikan dan terlalu cinta oleh pekerjaanku, sehingga merasa takut akan kehilangan dia, menjadi rapuh, mudah diserang dan tidak dapat menikmati kehidupanku karnanya.

Pekerjaan merubah aku dari manusia menjadi seonggoh daging berhati kerdil bahkan robot, menganggap Allah hanya melewatkan rejekinya dari pekerjaanku tersebut. Padahal seharusnya aku tahu bahwa Allah maha luas rejekinya, tidak akan Dia lewatkan rejeki kita hanya melalui satu pintu saja, karma yakinlah pintu itu tidak akan cukup, walau sebesar apapun dia, untuk melewatkan rejeki dari Allah.

Siapa yang tidak ingin memiliki pekerjaan tetap, gaji yang tinggi, karir yang cemerlang ?

“Sekarang perhatikan hal ini : Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita. Karma kita sibuk mempercantik cangkir kita, bahkan memperhatikan cangkir orang lain, berusaha merebut, merusak (pada beberapa orang yang sangat gelap hatinya), bahkan menghina cangkir orang lain dari pada menikmati isi cangkir kita sendiri”

Tuhan memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya. Jadi nikmatilah kopinya, jangan cangkirnya.

Categories: Warna-warni
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: